Minggu, 31 Agustus 2014

ISLAM DAN KRISTEN





            Sore itu, secangkir kopi hitam pahit menemani duduk santai saya. Di depan pekarangan rumah. Hari itu, pula saya betul-betul merasakan waktu luang beristirahat dirumah.  Tanaman-tanaman hias milik mama saya yang tertata rapi diatas pagar. Begitu sedap dipandang mata, bersamaan dengan duduk santai ini pula, saya mengamati lingkungan sekitar rumah saya. Suara adzan ashar sore itu begitu merdu dilantunkan. Entah…suara adzan ashar ini, berasal dari tape recorder. Atau seorang muadzin yang melantunkannya.
            Mushola, hanya sekira 100 meter dari rumah saya. Sore itu juga, mushola kecil sederhana ini, dipenuhi anak-anak untuk belajar mengaji. Tidak banyak, warga muslim ditempat ini. hanya, beberapa kepala keluarga saja. Termasuk, keluarga saya, selebihnya didominasi oleh warga Kristen. Pandangan saya, akan jauh sekali berbeda jika saya menyinggung. Toleransi keyakinan beragama di tempat ini. berbicara toleransi pasti berbicara pula penghormatan terhadap keyakinan beragama umat lain.
            Pemahaman dangkal atau doktrinisasi, mahzab tertentu yang dimaknai berlebihan. Menjadi jurang pemisah bagi warga muslim ditempat ini, untuk saling menghormati antar pemeluk. semisal, dalam merayakan hari besar keagamaan baik itu idul fitri dan hari raya natal. ketika warga muslim merayakan hari besar Idul Fitri warga Kristen datang berbondong-bondong ikut meramaikan serta memberi ucapan selamat kepada warga muslim.

            Sementara, ketika perayaan natal tidak  satupun warga muslim datang bertamu, ataupun hanya sekedar berjabat tangan. Saya juga tidak pernah mengetahui alasanya kenapa bisa terjadi di lingkungan tempat tinggal saya ini. pemahaman yang terbangun di fikiran saya jika berbicara keyakinan memang, dangkal lantaran saya bukan tokoh agama dan bukan pula ustad.
            Namun, saya bukan seorang apatis yang tidak perduli dengan persoalan keyakinan. Saya islam, saya memiliki tuhan. Tapi, perbedaan keyakinan beragama, seharusnya tidak dimaknai menjadi sebuah persoalan yang berdampak pada hilangnya persatuan di negeri ini. toh….didalam Pancasila, sila pertama sudah ditegaskan “Ketuhanan Yang Maha Esa” artinya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan. Dan negara juga menjamin kebebasan warga nya untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Bahkan, Lahirnya, sebuah peradaban di negeri  ini. juga tidak terlepas dari keyakinan agama yang berbeda-beda. Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu bahkan atheis sekalipun, juga ambil bagian dalam membangun peradaban bangsa ini. 
Dengan mempelajari sejarah perkembangan agama  di negeri ini, serta mengambil makna keragaman budaya dan agama. Sekaligus meyakini bahwa tidak ada agama yang berhak mengklaim sebagai pemilik sesungguhnya negeri ini. kita juga bisa berkaca dari masa lalu mengenai keikhlasan dan toleransi. Islam dan Kristen adalah sebuah agama  besar yang di yakini hampir seluruh belahan dunia.
Seorang, Ir Soekarno pemimpin bangsa ini, saya fikir lebih mengedepankan persatuan-dan kesatuan bangsanya melalui perbedaan keyakinan beragama. Tanpa, menonjolkan agama tertentu.  Seperti, yang disampaikan Ir. Soekarno dalam pembelaanya di depan sidang pengadilan Bandung tanggal 2 Desember 1930 Ir. Sukarno mengatakan.“ Sekalipun kita berlainan agama dengan golongan lain setanah air, namun sesungguhnya sama sama putera ibu pertiwi, Indonesia. Apakah golongan Kristen membiarkan agama yang mulia itu diperalat guna kepentingan memecah persatuan nasional kita dan memisahkan golongan bangsa kita yang satu dengan yang lain “.
Dominasi golongan Islam di negeri ini, jika dilihat dari indikator komunitas memang memiliki pengaruh besar. Seperti, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, jaringan islam liberal, Ahmadiyah. Belum lagi komunitas agama seperti, FPI, HTI. Tapi, apakah Islam mengajarkan kita pemeluknya  untuk menindas dan menzholimi umat lain ? saya beranggapan, tokoh-tokoh Islam di negeri ini bisa berfikir secara objektif dan bisa menyimpulkan. Perjuangan Islam tidak harus menggunakan label Islam. Perjuangan Islam harus ditujukan untuk mencapai cita cita Islam, seperti keadilan, kesejahteraan rakyat dan penghormatan pada kemanusiaan.
Persoalan keyakinan agama, itu milik individu kebebasan untuk menjalankan keyakinannya juga milik individu dan orang, tidak berhak untuk mengintervensi itu.  Segala pertanggung jawaban dosa atas konsekuensi keyakinan yang dianut, tanggung jawab individu terhadap tuhanya. Seperti apa yang disampaikan seorang tokoh agama, KH. Qurais sihab pernah berkata,“ semua agama ada kepercayaan siapa yang benar? Hanya allah yang dapat putuskan, dan putusan itu kelak dihari kiamat, maka tak usah bertengkar”.[1]


Penulis
Fajrian Noor
Wakil Ketua
Forum Komunikasi Pemuda Antar Agama (FKPAA) Kaltim


[1] Catatan ini,berdasarkan kejadian dilingkungan tempat tinggal saya . dan saya tulis bertepatan dengan hari Natal  tanggal 25 Desember 2013 pukul 5:44 Wita.

1 komentar:

  1. Oh, sungguh mencerahkan tulisan dari aktivis lintas agama ini.

    BalasHapus